Warga Kabaena Selatan Resah, Pesisir Tercemar Akibat Aktivitas Tambang PT TBS
Deliksultra.com, Bombana – Musim hujan yang seharusnya menjadi berkah justru membawa petaka bagi warga Desa Pongkalero, Kecamatan Kabaena Selatan, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Kawasan pesisir yang dulu jernih kini berubah menjadi keruh dan berlumpur, diduga kuat akibat aktivitas pertambangan nikel milik PT Tambang Bumi Sulawesi (TBS).
Air laut yang dulunya berwarna biru kini menjadi coklat pekat, diduga tercemar material limbah tambang yang terbawa air hujan ke pesisir. Tak hanya mencemari lingkungan, kondisi ini juga menimbulkan ancaman kesehatan, mulai dari banjir lokal hingga penyakit kulit yang mulai menyerang warga.
Kondisi ini memantik respons dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari politisi sekaligus aktivis daerah, Muh. Amsar. Ia menyuarakan keresahan masyarakat dan mendesak pemerintah untuk tidak tinggal diam.
“Kami tidak menolak investasi, karena itu penting untuk negara dan masyarakat. Tapi dampak lingkungannya jangan diabaikan. Warga sudah jadi korban,” ujarnya.
Amsar, yang juga menjabat sebagai Ketua KNPI Sultra, menyoroti lemahnya pengawasan pemerintah terhadap aktivitas pertambangan di pulau-pulau kecil seperti Kabaena. Ia menekankan bahwa dalam pertemuan-pertemuan nasional yang melibatkan para pelaku industri tambang, semestinya isu lingkungan juga mendapat perhatian serius.
“Menolak tambang tidak realistis, tapi mengabaikan dampaknya juga tidak bisa dibenarkan. Warga Kabaena Selatan butuh kepedulian, bukan janji,” tegasnya.
Ia menambahkan, bila PT TBS tidak menunjukkan itikad baik untuk memperbaiki dampak yang ditimbulkan, pemerintah harus tegas.
“Kalau perusahaan tidak peduli, lebih baik ditutup saja. Pemerintah harus hadir, bukan hanya saat memberi izin, tapi juga dalam mengawasi dan mengevaluasi aktivitasnya,” tutup Amsar.
Keresahan warga Kabaena Selatan ini menjadi pengingat bahwa investasi tambang di daerah harus dibarengi dengan tanggung jawab lingkungan dan kehadiran nyata dari negara dalam melindungi masyarakatnya.
Reporter : Andri







