Pemuda di Kendari Diduga Disekap dan Disiksa 10 Pria Tak Dikenal, Keluarga Keluhkan Penanganan Polisi
Deliksultra.com, Kendari – Seorang pemuda bernama Ading Wijaya (28), mengalami nasib nahas usai disekap dan dikeroyok oleh sekitar 10 pria tak dikenal di sebuah arena biliar bernama Prawira Biliar, Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari, Minggu 16 November 2025. Peristiwa itu telah dilaporkan ke polisi sejak 18 November 2024, namun hingga 4 Desember 2025 belum ada penetapan tersangka.
Keluarga korban, Ferdiansyah, menyebut bahwa peristiwa kekerasan itu berawal ketika Ading dijemput paksa dari sebuah rumah kos di Ranomeeto, Konawe Selatan. Saat dijemput menggunakan mobil dan motor, beberapa pria yang mengaku sebagai polisi mengintimidasi kerabat korban yang berada di lokasi.
Dalam perjalanan, Ading melihat sejumlah pria dan seorang wanita di dalam mobil. Ia diinterogasi dan bahkan disundut rokok oleh salah satu pelaku. Setelah itu korban digiring ke ruang VIP lantai II Prawira Biliar, lalu dikeroyok secara membabi buta hingga babak belur selama kurang lebih tiga jam.
Akibat penyiksaan itu, Ading mengalami luka lebam di wajah, nyeri sekujur tubuh, serta jari tangan bengkak. Setelah pengeroyokan, korban kemudian dibawa ke Polres Kendari dan diserahkan kepada penyidik.
Motif Dugaan Penganiayaan: Cemburu
Terungkap bahwa aksi penyekapan dan pengeroyokan itu diduga dipicu persoalan asmara. Sebelum diculik, Ading terlibat cekcok dengan kekasihnya berinisial IN yang pulang diantar pria lain dalam kondisi mabuk. Diduga cemburu, Ading mencekik IN hingga pingsan.
Kejadian tersebut yang kemudian diduga menjadi alasan sekelompok orang datang menjemput, menyiksa, dan menyeret Ading ke kantor polisi.
Dua hari setelah kejadian, keluarga melaporkan dugaan penganiayaan ke Polda Sultra dan membawa korban visum di RS Bhayangkara Kendari.
Namun setelah laporan berjalan, justru Ading kini ditahan dan sudah berstatus sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap IN.
Nama Polisi Disebut, Bantah Terlibat
Dalam penelusuran keluarga, nama Kanit Tipidter Reskrim Polresta Kendari, Ipda Ariel Morgens Ginting, sempat disebut memiliki keterkaitan dengan lokasi pengeroyokan. Namun Ariel membantah.
Ia menyampaikan lewat pesan WhatsApp bahwa jika ada karyawan Prawira Biliar terlibat, maka akan diberi tindakan tegas. Keluarga juga mengaku diperlihatkan video penjemputan korban oleh Ariel, namun tidak mengetahui sumber video tersebut.
Keluarga Keluhkan Penanganan Laporan
Keluarga korban mengaku telah berulang kali bolak-balik ke Polresta Kendari mengurus laporan mereka. Mereka juga telah dua kali mendatangi Propam Polda Sultra karena lambatnya penanganan, namun diarahkan kembali ke penyidik Polres.
Selain itu, hasil visum yang diharapkan menjadi bukti juga baru rampung 16 hari setelah kejadian. Saat ditanya mengenai keterlambatan dan belum adanya tersangka pengeroyokan, Polres Kendari menyatakan perkara masih berproses.
Kasat Reskrim Polres Kendari, AKP Welliwanto Malau menegaskan penyidik masih menunggu hasil visum dan memeriksa saksi-saksi.
Reporter : Andri







