Petani Dua Desa di Pomalaa Gelar Aksi Protes di Kawasan Industri IPIP
Deliksultra.com, Kolaka – Gabungan Kelompok Tani Bersatu Padu dari Desa Lamedai dan Oko-oko melakukan aksi unjuk rasa di kawasan industri Indonesia Pomalaa Industry Park (IPIP), Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Kamis (27/11/2025) pagi.
Jenderal lapangan aksi, Johan, mengungkapkan bahwa pembukaan lahan oleh PT IPIP telah mengakibatkan deforestasi dalam skala cukup luas yang beririsan langsung dengan Sungai Oko-Oko.
Menurutnya, aktivitas tersebut menyebabkan melemahnya daya dukung dan daya tampung sungai. Ketika hujan turun, air langsung mengalir ke Sungai Oko-Oko dan meluap hingga masuk ke area persawahan di Desa Lamedai dan Oko-Oko yang ikut terendam lumpur.
Ia juga menjelaskan bahwa PT Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) beroperasi di Kecamatan Pomalaa dengan area lahan sekitar 11.100 hektare.
Saat ini, sambungnya, perusahaan tengah melakukan pembangunan jalan hauling, fasilitas HPAL (High Pressure Acid Leaching), smelter, serta sarana lainnya dalam rangka persiapan operasional.
Namun, proyek strategis nasional tersebut, kata dia, menyisakan dampak bagi ratusan petani di kedua desa. Tercatat sebanyak 247 hektare sawah terendam banjir pada 18 Oktober dan 10 November 2025.
“Ancaman gagal panen menghantui ratusan petani di desa Lamedai dan Oko-Oko, Pematang yang jebol karena banjir, akses jalan yang sulit dilewati dan irigasi yang macet,” ungkapnya dalam rilis yang diterima media ini.
Mereka mendesak PT IPIP memberikan ganti rugi atas lahan sawah yang terendam, serta melakukan normalisasi Sungai Oko-Oko dan penanganan tanggul sepanjang aliran sungai hingga ke muara.
“Kami meminta perusahaan melakukan pembangunan saluran sekunder pada tanggul sungai Oko-Oko menuju persawahan Lawani dan melakukan perbaikan terhadap jalan usaha tani yang rusak akibat banjir,” tegasnya.
Selain itu, massa aksi juga mendesak pemerintah terkait untuk memperketat pengawasan atas dugaan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan proyek tersebut, karena dianggap mengancam ketahanan pangan ratusan warga di Desa Lamedai dan Desa Oko-Oko.
Hingga berita ini diterbitkan, jurnalis Langit Sultra masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak perusahaan.
Reporter : Andri







