Terdampak Tambang PT Daka, SDN 3 Laskep Belajar di Tengah Lumpur, Debu, dan Bising Dump Truck
Deliksultra.com, Konut – Aktivitas pertambangan PT Daka di Desa Boedingi, Kecamatan Lasolo Kepulauan, Kabupaten Konawe Utara, terus menuai sorotan. Salah satu dampak paling nyata dirasakan langsung oleh siswa dan guru SD Negeri 3 Lasolo Kepulauan (Laskep), yang terpaksa menjalani proses belajar mengajar dalam kondisi lingkungan yang tercemar, bising, dan tidak aman.
“Kalau hujan, lumpur naik sampai ke teras sekolah. Itu terjadi berulang-ulang,” ungkap Kepala Sekolah SDN 3 Laskep, Asrifin, saat dikonfirmasi Rabu (16/7/2025). Selain tergenang lumpur, sekolah juga harus menghadapi debu tambang yang masuk ke ruang kelas serta suara bising dari lalu lintas dump truck perusahaan yang hilir mudik di sekitar sekolah.
Lingkungan belajar yang seharusnya menjadi tempat aman dan nyaman bagi anak-anak, kini berubah menjadi zona berisiko tinggi akibat aktivitas perusahaan tambang yang beroperasi dekat area sekolah. “Tidak hanya terganggu secara kenyamanan, tapi juga kesehatan anak-anak bisa terdampak karena debu dan polusi yang terus-menerus,” ujar Asrifin.
Yang lebih mengecewakan, lanjutnya, hingga saat ini PT Daka belum pernah menunjukkan kontribusi positif terhadap sekolah, meskipun aktivitas mereka langsung berdampak pada keselamatan dan kesehatan siswa. “Tidak ada kontribusi. Sekolah ini seolah diabaikan,” tegasnya.
Aktivis lingkungan dari Lembaga Persatuan Pemuda Pemerhati Daerah (P3D) Konut, Jeje, mengungkapkan kekhawatiran serupa. Ia menilai keberadaan jetty dan aktivitas bongkar muat ore nikel di dekat sekolah sangat berbahaya.
“Anak-anak terpapar langsung debu tambang setiap hari. Mereka harus membersihkan ruang kelas sebelum belajar, dan konsentrasi mereka terganggu oleh suara kendaraan berat,” ujarnya.
Menurut Jeje, ini bukan sekadar persoalan kenyamanan, tetapi menyangkut hak anak atas pendidikan yang layak dan lingkungan yang sehat. “Jika dibiarkan, ini bisa berdampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak,” tambahnya.
Sebelumnya, PT Daka sempat menjanjikan relokasi SDN 3 Laskep sejak 2019, lengkap dengan pembangunan enam ruang kelas baru, perpustakaan, dan ruang guru di lokasi yang lebih aman. Namun hingga Juli 2025, janji itu belum juga diwujudkan.
Kepala Desa Boedingi, Aksar, menyatakan bahwa beberapa material dan lokasi sudah disiapkan, namun pelaksanaan relokasi belum berjalan karena masih menunggu arahan dari Dinas Pendidikan. “Kondisi sekolah sudah tidak layak pakai. Kami sudah minta agar PT Daka mempercepat proses relokasi,” tegasnya.
Dengan kondisi sekolah yang terus memburuk dan janji relokasi yang tak kunjung ditepati, berbagai pihak kini mendesak PT Daka dan Pemerintah Kabupaten Konawe Utara untuk segera mengambil langkah konkret demi keselamatan dan kesehatan anak-anak di SDN 3 Laskep.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Daka belum memberikan tanggapan atas konfirmasi yang diajukan redaksi.
Reporter : Andri







