Festival Literasi dan Polemik “Tampil Tanpa Honor”: Ketika Karya Kreatif Seolah Tak Punya Nilai
Deliksultra.com, Kendari – Rencana pelaksanaan Festival Literasi yang digagas Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tenggara mendapat perhatian dari sejumlah pegiat seni dan komunitas. Sorotan muncul setelah adanya ajakan kepada sekolah, perguruan tinggi, komunitas, sanggar, serta kelompok seni untuk berpartisipasi dengan skema tampil tanpa honor.
Kebijakan tersebut dinilai perlu dikaji kembali karena berpotensi menimbulkan kesan bahwa karya dan kerja para pelaku seni tidak memiliki nilai yang patut dihargai secara ekonomi.
Padahal, sebuah penampilan seni tidak lahir secara instan. Di balik pertunjukan terdapat rangkaian proses yang membutuhkan waktu, tenaga, biaya, serta persiapan. Mulai dari latihan, kebutuhan perlengkapan, kostum, transportasi, produksi, hingga pengalaman yang diperoleh para seniman selama bertahun-tahun.
Atas dasar itu, permintaan agar pelaku seni tampil tanpa honor dinilai berpotensi membangun pemahaman keliru mengenai profesi dan kerja kreatif. Terlebih, kegiatan tersebut diselenggarakan dalam konteks literasi dan melibatkan lembaga maupun komunitas di daerah.
Festival literasi pada dasarnya dapat menjadi ruang yang mempertemukan pengetahuan dengan kreativitas masyarakat. Seni juga merupakan bagian penting dalam membangun budaya literasi karena menjadi salah satu media masyarakat dalam menyampaikan gagasan, pengalaman, dan ekspresi.
Namun, semangat tersebut dinilai akan kehilangan makna apabila penghargaan terhadap pihak yang menghasilkan karya justru tidak menjadi bagian dari penyelenggaraan kegiatan.
Literasi semestinya tidak berhenti pada kemampuan membaca, menulis, maupun memahami informasi. Pemahaman mengenai penghargaan terhadap profesi, kreativitas, hak ekonomi, serta keberlangsungan ekosistem pekerja seni juga dapat menjadi bagian dari budaya literasi yang perlu dibangun.
Terlebih, unsur yang dilibatkan dalam festival tersebut cukup beragam. Sekolah, kampus, sanggar, komunitas, dan para pegiat seni merupakan bagian dari ekosistem pendidikan, kebudayaan, dan kreativitas di Sulawesi Tenggara.
Karena itu, rencana tersebut dinilai perlu mendapat perhatian agar Festival Literasi tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Pemerintah diharapkan dapat memastikan keterlibatan komunitas dan pekerja kreatif benar-benar ditempatkan sebagai bentuk pemberdayaan, bukan semata-mata sebagai cara mendapatkan penampilan untuk mendukung kemeriahan acara tanpa biaya.
Pada akhirnya, persoalan honor bukan hanya menyangkut nominal. Hal tersebut juga berkaitan dengan bagaimana pemerintah memandang proses kreatif, menghormati waktu dan tenaga seniman, serta membangun ekosistem seni yang berkelanjutan di Sulawesi Tenggara.
Reporter : Dandi







