Silaturahmi Masyarakat Muna Suguhkan Ewa Wuna, Seni Bela Diri Tradisional Sarat Filosofi
Deliksultra.com, Kendari – Ribuan warga memadati kawasan Tugu Eks MTQ Kendari, Minggu (19/7/2026), untuk menghadiri Silaturahmi Masyarakat Muna yang dirangkaikan dengan berbagai pertunjukan budaya. Di antara sejumlah penampilan yang disuguhkan, atraksi Ewa Wuna menjadi salah satu yang paling menyita perhatian pengunjung.
Sorak tepuk tangan bergemuruh ketika para pesilat mulai memperagakan teknik bertarung tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Muna. Aksi mereka tidak hanya menampilkan ketangkasan memainkan senjata, tetapi juga menggambarkan filosofi keberanian dan kehormatan yang melekat dalam tradisi tersebut.
Dalam khazanah budaya Muna, Ewa Wuna secara harfiah dimaknai sebagai tindakan melawan atau menyerang. Seni bela diri ini diyakini telah berkembang sejak masa pemerintahan Lakina Muna, Latitakono, pada abad ke-17. Pada masa itu, sistem pemerintahan diperkuat bersamaan dengan pengembangan kemampuan bela diri masyarakat melalui tokoh-tokoh seperti La Marati yang kemudian mewariskan ilmunya kepada La Derumpa.
Dari generasi ke generasi, Ewa Wuna menyebar ke berbagai wilayah di Pulau Muna, di antaranya Lawa, Tongkuno, Kabawo hingga Katobu. Di Desa Lakologou, tradisi tersebut mulai berkembang ketika wilayah itu masih berada dalam pemerintahan Ghoerano Tongkuno di bawah kepemimpinan Laode Karantu.
Pada masa lampau, tidak semua orang diperbolehkan mempelajari Ewa Wuna. Ilmu bela diri ini hanya diajarkan kepada kalangan tertentu dan digunakan sebagai kemampuan mempertahankan diri. Selain itu, Ewa Wuna juga menjadi bagian dari prosesi adat, seperti pesta pernikahan, masa pingitan, hingga penyambutan tamu kehormatan, termasuk Raja Muna.
Dalam pertunjukan di Kendari, enam pesilat tampil memperagakan berbagai teknik bertarung menggunakan senjata tradisional. Dua orang memainkan badik, tiga lainnya menggunakan parang, sementara seorang pesilat mempertunjukkan keahlian memainkan tombak.
Meski adegan yang diperagakan terlihat saling menyerang, jalannya atraksi tetap berlangsung aman berkat kehadiran petombi, yakni pengawal yang bertugas mengendalikan jalannya pertunjukan. Suasana semakin semarak dengan iringan musik rambi wuna yang dimainkan oleh lima orang pemusik tradisional.
Atraksi tersebut dibawakan oleh dua kelompok seni binaan komunitas masyarakat Muna di Kota Kendari, sehingga menjadi salah satu penampilan yang paling banyak mengundang perhatian peserta silaturahmi.
Ketua Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna, La Ode Darwin, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar ajang berkumpul warga Muna dari berbagai daerah, tetapi juga menjadi momentum memperkenalkan sekaligus menjaga keberlangsungan budaya leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Silaturahmi ini menjadi wadah untuk mempererat persaudaraan masyarakat Muna di mana pun berada. Yang tidak kalah penting, kegiatan ini mengingatkan generasi muda bahwa kelestarian budaya berada di tangan kita sendiri. Jika bukan kita yang merawatnya, maka warisan leluhur ini perlahan bisa hilang,” ujar La Ode Darwin.
Reporter : Dandi







