Disertasi Perwira TNI Ungkap “Bottleneck” Penanganan Terorisme di Indonesia

waktu baca 2 menit

Deliksultra.com, Makassar – Isu terorisme di Indonesia kembali disorot dari sudut pandang akademik. Bukan sekadar ancaman keamanan biasa, pendekatan penanganannya dinilai masih menyisakan celah, terutama dalam koordinasi lintas lembaga negara.

Hal itu mengemuka dalam sidang promosi doktor Kolonel Kav Ir Amran Wahid ST MM IPM di Universitas Muslim Indonesia, Sabtu (11/4). Dalam disertasinya, ia mengurai persoalan mendasar terkait belum solidnya kerja sama antara TNI, Polri, dan BNPT dalam menghadapi terorisme yang kian dinamis.

Amran menilai, perbedaan persepsi hingga kendala regulasi menjadi penghambat utama. Ia mengkaji persoalan tersebut melalui pendekatan hukum empiris yang dipadukan dengan analisis filsafat serta dogmatik hukum, sehingga menghasilkan gambaran utuh antara teori dan praktik di lapangan.

“Hasil kajian menunjukkan sinergisitas antarlembaga memang belum berjalan optimal. Ada kendala di substansi hukum, struktur, hingga sarana prasarana,” ungkap Amran di hadapan dewan penguji yang dipimpin Sufirman Rahman.

Dalam paparannya, Amran menekankan pentingnya kejelasan batas kewenangan antar institusi. Ia mencontohkan, dalam situasi ancaman yang masih bersifat awal, penanganan dapat difokuskan pada aparat kepolisian. Namun, ketika eskalasi meningkat dan menyentuh aspek pertahanan negara, keterlibatan militer harus memiliki dasar hukum yang tegas.

“Namun, jika sudah berkembang menjadi serangan yang mengancam pertahanan negara, payung hukum harus jelas agar TNI dan Polri bisa bergerak terpadu tanpa keraguan,” tegasnya.

Disertasi ini tidak lahir dari ruang hampa. Pengalaman Amran di bidang intelijen, termasuk saat bertugas di Badan Intelijen Daerah (Binda) Sulawesi Tenggara, menjadi fondasi kuat dalam membangun analisis yang aplikatif. Perspektif lapangan yang ia miliki membuat kajiannya dinilai relevan dengan kebutuhan aktual penanganan terorisme.

Selain aktif di dunia militer, Amran juga produktif di ranah literasi. Karyanya seperti Sinergitas TNI-Polri Menangani Terorisme di Indonesia dan Pengantar Hukum Pidana Indonesia turut memperkaya diskursus keamanan nasional.

“Gelar doktor ini bukan sekadar pencapaian pribadi, tapi ikhtiar untuk memberi kontribusi pemikiran bagi keamanan bangsa,” tambahnya.

Sidang promosi tersebut turut dihadiri tim promotor, yakni La Ode Husen, M Kamal Hidjaz, dan Kamri Ahmad. Para penguji memberikan apresiasi atas kedalaman riset yang dinilai mampu menawarkan perspektif baru dalam memperkuat sistem penanggulangan terorisme di Indonesia.

Melalui capaian akademik ini, Amran menunjukkan bahwa peran prajurit tak hanya di medan tugas, tetapi juga dalam menyumbang gagasan strategis bagi kebijakan negara.

Reporter : Dandi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *